Makalah Beton (Campuran Beton)

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan konstruksi di Indonesia semakin meningkat. Menurut artikel Kementrian Perindustrian Republik Indonesia akibat terjadinya peningkatan pembangunan konstruksi beton maka permintaan terhadap kebutuhan semen juga mengalami peningkatan bahkan konsumsi semen mencapai 48 juta ton pada tahun 2011 atau naik 17,7% dari tahun 2010. Kebutuhan permintaan semen yang tinggi tidak diimbangi dengan adanya produksi semen yang berimbang sehingga Indonesia masih menggunakan semen impor untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di Indonesia.

Dari hasil pengujian oleh Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado di peroleh kandungan silikat abu ampas tebu sebesar 68,5% sehingga memiliki sifat pozzolan. Menurut standar ASTM C 125-07 (2007), pozzolan ialah bahan yang mempunyai silika atau silika alumina yang memiliki sedikit atau tidak ada sifat semen tetapi apabila dalam bentuk butiran yang halus dan dengan kehadiran kelembaban, bahan ini dapat bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu biasa untuk membentuk senyawa bersifat semen. Dengan ukuran butiran yang halus dan kandungan silikat yang tinggi maka limbah ampas tebu dapat di manfaatkan sebagai bahan pengganti semen. Pemanfaatan limbah abu ampas tebu sebagai bahan pengganti semen juga mengurangi pencemaran lingkungan karena berkurangnya emisi gas rumah kaca khususnya CO2 akibat produksi semen.
Dengan adanya pemanfaatan abu ampas tebu (AAT) sebagai substitusi parsial semen diharapkan dapat meningkatkan kekuatan beton khususnya kekuatan tarik lentur yang pada dasarnya relatif kecil sehingga dapat mengurangi retak-retak pada beton serta meningkatkan harga modulus elastisitas yang berpengaruh terhadap kekakuan struktur. Selain itu dapat mengurangi biaya pembangunan konstruksi beton khususnya pada daerah di sekitar pabrik.
1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh abu ampas tebu terhadap sifat mekanik beton yang dibatasi pada kuat tarik lentur dan modulus elastisitas. Selain itu berapakah prosentase optimal dari pemanfaatan abu ampas tebu sebagai substitusi parsial semen pada campuran beton.
1.2. Tujuan
Mengetahui pengaruh abu ampas tebu (AAT) sebagai substitusi parsial semen pada beton terhadap kuat tarik lentur. Mengetahui pengaruh abu ampas tebu sebagai substitusi parsial semen pada beton terhadap modulus elastisitas.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pemeriksaan Nilai Slump
Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui tingkat kelecakan adukan beton atau workability. Dalam penelitian nilai slump untuk beton dengan campuran abu ampas tebu 0% berkisar antara 75–100 mm. Penggunaan air yang sama untuk setiap prosentase menyebabkan nilai menjadi bervariasi. Hal ini terjadi dikarenakan prosentase pemakaian abu ampas tebu yang dalam berat yang sama dengan semen memiliki volume lebih besar sehingga penyerapan airnya juga semakin besar. Semakin besar prosentase abu ampas tebu maka semakin kecil nilai slump. Selain itu terjadi perbedaan nilai slump pada campuran dengan volume adukan beton yang berbeda hal ini disebabkan oleh karena pengaruh luas permukaan molen sehingga pada volume campuran yang berbeda, jumlah air dan semen yang melekat ke permukaan molen tetap sama sehingga menyebabkan banyak kehilangan air untuk volume campuran yang kecil serta suhu pembakaran yang tidak stabil menyebabkan penyerapan airnya juga tidak merata.
2.2. Kuat Tarik Lentur Beton
Substitusi parsial semen dengan abu ampas tebu tidak memberikan pengaruh peningkatan terhadap kuat tarik lentur. Semakin besar prosentase abu ampas tebu yang menggantikan semen menyebabkan terjadinya penurunan kuat tarik lentur. Penurunan dapat terjadi dikarenakan suhu pembakaran abu ampas tebu yang kurang stabil sehingga silikat yang dihasilkan kurang reaktif sehingga tidak berekasi secara optimal dengan kapur yang dibebaskan saat reaksi hidrasi terjadi. Dalam penelitian ini jumlah air yang digunakan dalam campuran beton dipertahankan atau dibuat sama untuk setiap prosentase abu ampas tebu sehingga dengan adanya substitusi semen dengan abu ampas tebu menyebabkan campuran beton semakin tidak plastis dan air untuk proses hidrasi semakin berkurang. Hal ini dapat menyebabkan reaksi hidrasi tidak berlang-sung secara sempurna sehingga tidak terjadi reaksi antara silikat dan kalsium hidroksida dan daya rekat yang diharapkan tidak terjadi.
2.3. Modulus Elastisitas Beton
Peningkatan modulus elastistas terjadi pada substitusi AAT 5% kemudian mengalami penurunan hingga substitusi AAT 15 % di mana pada variasi ini memberi nilai modulus elastisitas terendah yaitu 46327.83 MPa. Dan pada substitusi AAT 20 %, modulus elastisitas mengalami peningkatan dan memberi nilai modulus elastisitas tertinggi yaitu sebesar 57367 MPa. Penurunan terjadi pada variasi substitusi 25% namun demikian masih lebih besar dibandingkan nilai modulus elastisitas tanpa substitusi AAT. Hasil modulus elastisitas dalam penelitian ini sangat dipengaruhi oleh ketelitian saat pembacaan jarum yang masih dilakukan secara manual. Selain itu laboratorium yang juga digunakan untuk penelitian lainnya serta waktu pengujian setiap variasi AAT yang tidak bersamaan menyebabkan kecepatan pembebanan berbeda-beda untuk setiap benda uji dengan prosentase yang berbeda sehingga mempengaruhi nilai bacaan dan tegangan hancur yang dialami oleh benda uji beton saat pengujian. Faktor lainnya juga dipengaruhi oleh permukaan benda uji yang tidak rata ataupun penempatan benda uji pada alat uji kurang baik.
2.4. Kuat Tekan Beton
Dengan adanya substitusi parsial AAT memberi pengaruh peningkatan kekuatan tekan beton dan peningkatan terbesar terjadi pada substitusi AAT 5%. Dan secara keseluruhan dengan adanya substitusi parsial AAT memberi harga kuat tekan beton lebih dari kuat tekan beton yang direncanakan dalam penelitian ini yaitu 30 MPa. Hal ini dapat terjadi karena AAT memiliki ukuran butiran kecil sehingga berperan sebagai filler pada beton. Di mana dengan adanya substitusi maka pori-pori beton terisi oleh AAT. Selain itu dengan adanya substitusi semen dengan AAT membuat beton pada penelitian ini yang dipertahankan penggunaan air dalam campuran beton menjadi berkurang sehingga meningkatkan kuat tekan beton. Tetapi pada substitusi AAT yang semakin besar dapat menurunkan kekuatan beton karena air yang dibutuhkan untuk reaksi hidrasi semakin berkurang.

BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1.      Substitusi parsial semen dengan AAT tidak memberikan pengaruh peningkatan kuat tarik lentur beton.
2.      Modulus elastisitas dari hasil pengujian laboratorium lebih besar dari modulus elastisitas yang diperoleh dari rumus hubungan kuat tekan beton dengan nodulus elastisitas menurut SNI dan ACI.
3.      Semakin besar substitusi abu ampas tebu maka semakin rendah workability campuran beton atau atau campuran beton semakin sulit untuk dikerjakan.

Tidak ada komentar: